1 / 3
Caption Text
2 / 3
Caption Two
3 / 3
Caption Three

BANGUNAN TAHAN GEMPA

Oleh : Denaya Artamevia NS

Setiap tahun kerak luar bumi bergetar sekitar satu juta kali. Getaran-getaran tersebut dapat diukur dengan peralatan seismograf. Diantara getaran-getaran tersebut ada yang menimbulkan getaran yang lemah, bahkan tidak terasa sama sekali sampai yang sangat kuat, yang dapat memakan korban. Gempa bumi merambat melalui getaran keseluruh permukaan bumi, akan tetapi menjadi berbahaya disekitar pusat gempa. Daerah yang paling rawan adalah yang mengalami pergeseran lempeng tektonik.
Beberapa hari yang lalu, sebuah musibah menimpa saudara kita yang berada di Taiwan. Gempa yang berkekuatan hingga 6,4 sr menyerang secara tiba-tiba dan membuat beberapa gedung ambruk serta melukai bahkan menewaskan beberapa orang. Salah satu bangunan yang menjadi sorotan pasca terjadinya gempa yaitu suatu bangunan setinggi 17 lantai yang berada di kota Tainan. Telah terkuak bahwa salah satu penyebab ambruknya bangunan tersebut adalah ketidaksesuaian bangunan tersebut dengan standar bangunan yang seharusnya. Bayangkan saja, ternyata didalam fondasi beton yang seharusnya diisi dengan murni material beton, malah diisi dengan banyak sekali kaleng minyak. Di mana, kaleng minyak tadi digunakan dan disusun rapi agar dapat menghemat atau mengurangi pemakaian beton itu sendiri.
Gempa bukan bencana yang mematikan, tetapi bangunan buruklah yang membunuh manusia. Pada daerah-daerah yang rawan gempa untuk menghindari banyaknya korban yang berjatuhan saat gempa terjadi, maka sebaiknya dibangun bangunan-bangunan yang tahan gempa. Konsep hunian tahan gempa sendiri adalah bangunan yang dapat bertahan dari keruntuhan akibat getaran gempa, serta memiliki fleksibilitas untuk meredam getaran
            Untuk itu dalam pelaksanaan pembangunan bangunan yang tahan gempa, perlu diperhatikan beberapa prinsip:
1.                  Pondasi
Pondasi bangunan yang baik haruslah kokoh dalam menyokong beban dan tahan terhadap perubahan termasuk getaran. Pada dasarnya fondasi yang baik adalah seimbang atau simetris. Dan untuk pondasi yang berdekatan harus dipisah, untuk mencegah terjadinya keruntuhan local (Local Shear).
Di Indonesia, Rumah tahan gempa (Smart Modula) ini tergolong konsep revolusioner untuk konstruksi bangunan serba guna. Desain rumah ini memiliki fleksibilitas tinggi, mudah dalam membangunnya, dan cukup kokoh. Struktur utama rumah tahan gempa ini tidak ditanam atau ditopang dengan fondasi yang memanjang di bawah dinding rumah, tetapi hanya menggunakan umpak di setiap sudut rumah. Konsepnya mengadopsi model rumah tradisional adat Jawa yang dibuat dari kayu. Dengan penopang semacam ini, saat terjadi gempa, relatif bisa fleksibel.



2.                  Desain Kolom
Kolom harus menggunakan kolom menerus. Pada bangunan tinggi seringkali unsur vertikal struktur menggunakan gabungan antara kolom dengan dinding geser (shear wall).

3.                  Desain Bangunan
Bentuk denah bangunan sebaiknya sederhana, simetris, dan dipisahkan untuk menghindari terjadinya dilatasi (perputaran atau pergerakan) bangunan saat gempa.

4.                  Bahan bangunan diusahakan seringan mungkin.

5.                  Struktur Atap.
Denah bangunan dengan pengaku horizontal (bracing) akan lebih kuat.

6.                  Konsep Desain Kapasitas
Konsep Desain Kapasitas adalah dengan meningkatkan daktalitas elemen- elemen struktur dan perlindungan elemen- elemen struktur lain yang diharapkan dapat berperilaku elastik. Salah satunya adalah dengan konsep “strong column weak beam”. Dengan metode ini, bila suatu saat terjadi goncangan yang besar akibat gempa, kolom bangunan di desain akan tetap bertahan, sehingga orang- orang yang berada dalam Gedung masing mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri sebelum Bangunan roboh seketika.
Salah  satu penyebab lain yang mengakibatkan hancurnya sebuah bangunan adalah akibat soft-story. Dimana suatu lantai yang berada pada bangunan bertingkat mempunyai ketahanan yang lunak dan berbeda dari lantai-lantai lainnya.

Sumber :