1 / 3
Caption Text
2 / 3
Caption Two
3 / 3
Caption Three

Beton Berpori sebagai Solusi Permasalahan Banjir



Dalam kehidupan di Indonesia, sudah tak asing lagi bagi Indonesia yang marak akan banjir terutama di kawasan perkotaan seperti di Jakarta. Dinamika ini terus terjadi layaknya siklus musiman yang muncul tiap musim penghujan. Dari permasalahan banjir tersebut tentu sangat menarik untuk kita kaji dan cari solusi atau alternatif yang dapat mengurangi atau bahkan mencegah masalah tersebut terjadi di masa mendatang. Salah satu ide berkenaan dengan solusi dari masalah banjir ini adalah Beton Berpori.
                Beton berpori seperti namanya merupakan beton yang berpori atau permeabel dan dapat dilewati oleh air. Konsep beton berpori sebenenarnya sudah ada sejak lama namun baru-baru ini sudah dalam penyempurnaan. Kekurangan beton berpori ini sebelum disempurnakan ialah kurangnya kekuatan dan kerekatan antar campuran agregat dari beton sehingga tidak awet dan mudah rusak. Namun, kini teknologi sudah semakin maju dan para insinyur sudah menyempurnakan campuran beton berpori ini. Konsep yang digunakan dalam beton berpori ini adalah mengunakan agregat yang agak besar dan direkatkan dengan bahan perekat lain sehingga ada rongga-rongga di dalam jalan yang membuat air dapat mengalir melalui jalan menuju ke tanah.
                Keuntungan penggunaan beton berpori dibandingkan dengan menggunakan beton biasa pada pembuatan bangunan atau jalan antara lain yaitu dapat mengatasi masalah banjir sementara dan banjir jangka panjang, karena air hujan akan langsung disalurkan ke tanah. Selain itu, penggunaan aspal berpori juga mengurangi arus air diatas aspal yang dapat mengganggu para pengguna jalan karena air akan langsung diserap kedalam aspal.
                Di Indonesia pun ada beberapa pihak yang mengembangkan jalan berpori untuk mengatasi banjir. Salah satu hasil produk Indonesia penemuan yang menggunakan konsep beton berpori adalah Geopori. Geopori sendiri merupakan hasil ciptaan Dosen Institut Teknologi Bandung ( ITB), Prof. Dr. Ir. Bambang Sunendar Purwasasmita, yang dikembangkan dari hasil limbah batubara yang masyarakat anggap limbah tersebut sudah tidak ada manfaatnya . Namun, hasilnya hal ini justru menjadi solusi untuk mengatasi banjir yang sering terjadi di perkotaan. Walaupun pemerintah belum menggunakannya di jalan-jalan, beliau pernah dimintai untuk membuat geopori untuk jalur pesawat terbang.
Produk lainnya yang dapat kita temui di Indonesia adalah beton berpori. Beton berpori produk Indonesia dikembangkan oleh PT Holcim Indonesia dan menjadi salah satu produknya. Beton berpori tersebut sudah diaplikasikan di Bandara Juanda dengan luas daerah 3500 meter persegi dan di trotoar di Jalan Rasuna Said, Jakarta. PT Holcim Indonesia sendiri menyebut produk tersebut  dengan nama ThruCrete. Di luar negeri, beton berpori pun juga sudah dikembangkan dengan nama Topmix (Topmix Permeable Concrete) oleh Tarmac. Beton Topmix menggunakan bahan yang berbeda dengan aspal dan juga beton biasa



Daftar Pustaka
Ramadhiani, Arimbi. 2015. Beton Penyerap Air Bisa Jadi Solusi Banjir.  http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/12/beton-penyerap-air-bisa-jadi-solusi-banjir [diakses pada 16 April 2018].
Ramdhani, Dendi. 2017. Beri Solusi Banjir, Dosen ITB Ciptakan Bahan Jalan yang Bisa Serap Air https://regional.kompas.com/read/2017/09/28/06480081/beri-solusi-banjir-dosen-itb-ciptakan-bahan-jalan-yang-bisa-serap-air [diakses pada 16 April 2018].
McFadden, Christopher. 2017. Topmix Permeable Concrete Can Absorb an Impressive 4 Liters of Water per Minute. https://interestingengineering.com/topmix-permeable-concrete-can-absorb-water [diakses pada 16 April 2018].


Comments

Ramadhani Fitri said…
wah betonnya keren