1 / 3
Caption Text
2 / 3
Caption Two
3 / 3
Caption Three

PEMBANGUNAN TEROWONGAN AIR NEYAMA SEBAGAI SOLUSI PENAGGULANGAN BANJIR DI TULUNGAGUNG


PEMBANGUNAN TEROWONGAN AIR NEYAMA
SEBAGAI SOLUSI PENAGGULANGAN BANJIR DI TULUNGAGUNG

Oleh : Robertus Kevin Danu

Indonesia merupakan kawasan rawan terjadi bencana alam, seperti gunung meletus, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, dll. Salah satu yang paling sering terjadi adalah banjir. Bencana ini membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar pada masyarakat. Oleh karena itu, Indonesia perlu menyediakan infrastruktur yang memadahi agar dampak bencana ini dapat dikurangi secara signifikan sehingga kerugian akibat dampak bencana dapat diminimalisir. 

Kabupaten Tulungagung menjadi satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang sering mengalami  banjir. Hal tersebut dikarenakan oleh dua faktor dominan yaitu topografi kawasan dan meluapnya Sungai Brantas. Topografi wilayah Kabupaten Tulungagung terbagi menjadi tiga kawasan yakni kawasan berbukit, dataran rendah, dan pantai. Daerah Utara, Timur, dan Tengah merupakan daerah dataran rendah. Sedangkan daerah Selatan dan Barat merupakan kawasan berbukit dan berpantai. Bencana banjir yang melanda Tulungagung sering terjadi pada daerah utara yang memanjang ke selatan dan daerah tengah ke timur. Bencana banjir juga didukung oleh meluapnya aliran sungan Brantas akibat pendangkalan sungai karena sedimen dari sisa letusan Gunung Kelud.

Gambar 1. Peta Daerah Banjir di Tulungagung

Untuk mengatasi masalah banjir di Tulungagung maka didirikanlah Terowongan Air Neyama pada masa pendudukan Jepang di Hindia-Belanda tahun 1943. Alasan utama pembangunannya yakni meluapnya Sungai Brantas tahun 1942 yang merendam 150 desa, 9.000 rumah, dan area pertanian di Tulungagung. Oleh sebab itu, pemerintah Karesidenan Kediri membangun terowongan air melalui area perbukitan untuk menguras air yang menggenangi rawa di daerah hilir sungai menuju Samudera Hindia sekaligus untuk menjaga tanaman padi untuk pasukan Jepang di medan perang. Pembangunannya sendiri dilakukan secara manual dengan bahan peledak dan peralatan tangan sederhana yang dikerjakan dengan sistem romusha. Untuk mengerjakannya dibuatlah saluran terbuka dengan meratakan punggung bukit dan pengahncuran batu kapur di dasar bukit dengan dinamit. Pekerjaan terowongan selesai pada bulan Juli 1944.

Gambar 2. Saluran Air Terowongan Tulungagung Selatan ke Pantai Sidem

Terowongan Neyama masih dapat bekerja dengan baik hingga Jepang meninggalkan Indonesia pada 1945. Akan tetapi sepuluh tahun kemudian (tahun 1955) terjadi banjir di Sungai Brantas akibat meningginya dasar sungai (riverbed) karena masih adanya sedimentasi letusan Gunung Kelud. Hal ini berdampak pada perekonomian dan kesehatan masyarakat. Di musim penghujan, lahan perkebunan tebu dan palawija hingga area persawahan di daerah Tulungagung terendam banjir. Menurut laporan pada tahun 1976, banjir yang terjadi hampir setiap tahun telah membawa kerugian hingga Rp287.012.505. Selain itu penyebaran penyakit kulit hingga demam berdarah terjadi di daerah Kota Tulungagung dan sekitarnya. Untuk mengatasinya, pemerintah melakukan rehabilitasi terowongan dengan memperlebar diameter terowongan menjadi 7 meter dan panjang 950 meter, proyek rehabilitasi selesai pada 1961. Namun, pada tahun 1971 banjir terjadi lagi dikarenakan faktor yang relatif sama yaitu pendangkalan dasar sungai akibat sedimentasi letusan Gunung Kelud.

Revitalisasi yang dilakukan pada tahun 1961 hanya bersifat sementara, sehingga perlu dilakukan penambahan terowongan untuk menampung debit air yang lebih besar. Dalam membantu pengoptimalan proyek pembangunan Terowongan Neyama II (Terowongan Tulunganggung Selatan II) yang berkonsep pelebaran diameter dan penambahan terowongan baru pemerintah memperbaiki dua buah sungai yang menjadi salah satu pembagi pematusan banjir. Pertama, saluran Parit Raya yang berasal dari wilayah Sungai Trenggalek yang kemudian dibelokkan ke arah timur dan masuk daerah Terowongan Neyama. Kedua, Saluran Parit Raya yang merupakan saluran air dari Kali Ngrowo menuju daerah pembuangan di Terowongan Neyama. Proyek yang dimulai pada tahun 1971 ini akhirnya selesai pada tahun 1986. Setelah pembangunan terowongan tambahan selesai, dampak banjir yang terjadi di Tulungagung dapat berangsur-angsur berkurang.

Gambar 3. Pintu Terowongan Tulungagung Selatan

Dalam catatan sejarah, banjir di Tulungagung dari tahun 1955-1986 menyebabkan perlunya pembangunan infrasturktur sipil yang memadahi guna menaggulangi bencana alam yang dapat merugikan masyarakat di daerah rawan bencana. Pembangunan Terowongan Neyama oleh Pemerintah Militer Jepang pada masa pendudukan serta rehabilitasi dan penambahan Terowongan Tulungagung Selatan II oleh Pemerintah Republik Indonesia menjadi langkah yang baik guna menanggulangi kerugian akibat banjir tahunan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.


Referensi
Istieni, Nofi. Banjir di Tulungagung 1955-1986. Jurnal Pendidikan Sejarah. Volume 6 no. 2 . Juli 2018.
Isnaeni, Hendri F. (14 April 2012). Terowongan Neyama Romusha. Dikutip 9 Februari 2019 dari Historia : https://historia.id/politik/articles/terowongan-neyama-romusha-PRkO6.
Admin (5 Februari 2013). Wisata Tulungagung : Terowongan Tulungagung Selatan, Sejarah Terowongan Niyama, Seluk Beluk Terowongan Tulungagung Selatan, Banjir Tulungagung. Dikutip 10 Februari 2019 dari info.okeygan : http://info.okeygan.com/2013/02/Wisata-Tulungagung-Terowongan-Tulungagung-Selatan-Sejarah-Terowongan-Niyama-Seluk-Beluk-Terowongan-Tulungagung-Selatan-Banjir-Tulungagung.html.





Comments